Operasional

Cara kelola stok bahan baku dan supplier di Dapur MBG

8 menit baca

Produksi harian Dapur MBG sangat bergantung pada bahan baku yang tersedia tepat waktu dan tepat jumlah. Ketika stok tidak dikelola dengan tertib, dapur bisa kehabisan bahan pada saat produksi sudah berjalan, atau sebaliknya, menyimpan bahan berlebih yang berisiko rusak sebelum sempat dipakai. Artikel ini membahas cara mengelola stok bahan baku di Dapur MBG, mulai dari penerimaan sampai hubungan kerja dengan supplier, agar pasokan tetap lancar dan waste bisa ditekan.

Penerimaan bahan baku

Setiap bahan yang datang dari supplier perlu diperiksa sebelum diterima, mencakup jumlah, kondisi fisik, dan tanggal kedaluwarsa untuk bahan yang mencantumkannya. Bahan yang kondisinya sudah tidak layak, misalnya rusak, berbau tidak sedap, atau suhunya sudah berada di luar rentang aman, sebaiknya ditolak saat itu juga, bukan diterima dulu lalu diputuskan kemudian. Setiap penerimaan dicatat dengan jumlah, tanggal terima, dan nama supplier, sehingga stok yang masuk selalu punya jejak yang jelas sejak awal.

Menerapkan FIFO dan FEFO

FIFO, yaitu bahan yang lebih dulu diterima dipakai lebih dulu, dan FEFO, yaitu bahan yang kedaluwarsanya lebih dekat dipakai lebih dulu, adalah dua prinsip dasar rotasi stok yang saling melengkapi. Pada bahan yang umurnya relatif seragam, FIFO cukup memadai karena urutan penerimaan biasanya sejalan dengan urutan kedaluwarsa. Namun untuk bahan dengan variasi tanggal kedaluwarsa yang tidak sejalan dengan urutan penerimaan, FEFO menjadi acuan yang lebih tepat. Menyusun bahan di rak atau lemari penyimpanan dengan bahan lama di depan dan bahan baru di belakang adalah cara sederhana menerapkan kedua prinsip ini tanpa perlu sistem yang rumit.

Penyimpanan sesuai jenis bahan

Bahan baku dapur tidak seragam kebutuhan penyimpanannya. Bahan beku memerlukan suhu pembeku, bahan segar seperti daging dan sayur memerlukan suhu pendingin, sementara bahan kering seperti beras dan bumbu bisa disimpan pada suhu ruang asalkan terhindar dari lembap dan hama. Memisahkan area penyimpanan menurut jenis bahan ini membantu menjaga kualitas masing-masing bahan sekaligus memudahkan pencarian saat bahan hendak diambil untuk diolah. Bahan mentah dan bahan matang juga sebaiknya disimpan terpisah agar tidak terjadi kontaminasi silang selama penyimpanan.

Mencatat pemakaian bahan harian

Setiap bahan yang diambil untuk diolah sebaiknya dicatat jumlahnya pada hari yang sama, bukan diperkirakan ulang di akhir minggu. Pencatatan harian ini menghasilkan stok tercatat yang bisa dibandingkan dengan stok fisik secara berkala, sehingga selisih, jika ada, bisa segera ditelusuri penyebabnya selagi masih mudah diingat oleh petugas yang bertugas hari itu. Pencatatan yang konsisten juga menjadi dasar untuk menghitung kebutuhan pembelian bahan pada periode berikutnya, mengikuti siklus menu yang sedang berjalan.

Melakukan stok opname berkala

Selain pencatatan harian, dapur perlu melakukan stok opname secara berkala, yaitu menghitung ulang jumlah bahan fisik yang tersedia dan membandingkannya dengan angka pada catatan. Stok opname sebaiknya dijadwalkan rutin, misalnya mingguan untuk bahan yang perputarannya cepat, karena selisih yang dibiarkan menumpuk lebih sulit ditelusuri dibandingkan selisih yang segera diperiksa. Jika selisih ditemukan, catat penyebabnya sejauh bisa dipastikan, apakah karena kesalahan pencatatan, penyusutan wajar selama pengolahan, atau bahan yang rusak sebelum sempat dipakai. Hasil stok opname ini menjadi bahan evaluasi apakah prosedur penerimaan, penyimpanan, dan pencatatan pemakaian sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Mengurangi waste bahan baku

Waste bahan baku umumnya berasal dari tiga sumber: bahan yang rusak karena penyimpanan tidak sesuai, bahan yang kedaluwarsa karena rotasi stok tidak berjalan, dan bahan yang berlebih karena pembelian tidak sesuai kebutuhan produksi sebenarnya. Menerapkan FIFO atau FEFO secara konsisten menekan sumber kedua, sementara penyimpanan yang sesuai jenis bahan menekan sumber pertama. Sumber ketiga paling efektif ditekan dengan menghitung kebutuhan bahan mengikuti siklus menu dan jumlah porsi yang benar-benar akan diproduksi, bukan membeli dalam jumlah bulat tanpa perhitungan yang jelas.

Menjaga hubungan kerja dengan supplier

Supplier yang memahami pola kebutuhan dapur bisa menyesuaikan jumlah dan jadwal pengiriman dengan lebih akurat, sehingga dapur tidak perlu menyimpan stok pengaman yang terlalu besar untuk mengantisipasi keterlambatan. Komunikasi rutin soal perkiraan kebutuhan, termasuk perubahan jumlah porsi menjelang hari libur sekolah atau perubahan jumlah penerima, membantu supplier menyiapkan pasokan lebih tepat dibandingkan pemesanan yang selalu dilakukan mendadak. Mencatat riwayat pengiriman setiap supplier, termasuk ketepatan waktu dan kesesuaian jumlah, juga membantu dapur menilai supplier mana yang paling bisa diandalkan untuk bahan tertentu. Dapur yang memakai lebih dari satu supplier untuk bahan yang sama sebaiknya tetap mencatat riwayat masing-masing secara terpisah, sehingga perbandingan ketepatan waktu dan kualitas antar supplier bisa dilihat dengan jelas saat menentukan pemasok utama untuk periode berikutnya.

Langkah kelola stok bahan baku harian

  1. Periksa dan catat setiap bahan yang diterima. Tolak bahan yang kondisinya sudah tidak layak sebelum masuk ke penyimpanan.
  2. Simpan bahan sesuai jenisnya. Pisahkan area beku, dingin, dan suhu ruang, serta pisahkan bahan mentah dari bahan matang.
  3. Susun bahan dengan prinsip FIFO atau FEFO. Tempatkan bahan lama atau yang kedaluwarsanya lebih dekat di posisi yang lebih mudah diambil lebih dulu.
  4. Catat pemakaian bahan setiap hari. Bandingkan dengan stok tercatat secara berkala untuk menemukan selisih lebih awal.
  5. Hitung kebutuhan pembelian mengikuti siklus menu. Hindari pembelian dalam jumlah bulat tanpa perhitungan yang jelas.
  6. Catat riwayat pengiriman setiap supplier. Gunakan sebagai dasar evaluasi ketepatan waktu dan kesesuaian jumlah pada periode berikutnya.

Bagaimana Atureen SPPG membantu

Atureen SPPG mencatat penerimaan bahan, pemakaian harian, dan sisa stok dalam satu alur, sehingga petugas dapur tidak perlu menyalin ulang catatan dari buku terpisah ke laporan akhir. Riwayat pengiriman per supplier tersimpan bersama data pembelian, memudahkan evaluasi ketepatan waktu dan kesesuaian jumlah dari waktu ke waktu. Karena pencatatan stok terhubung dengan siklus menu dan data produksi, kebutuhan pembelian periode berikutnya bisa dihitung berdasarkan riwayat pemakaian yang sebenarnya. Bagi pemilik yang mengelola beberapa Dapur, pantau stok bahan baku seluruh dapur dari aplikasi owner SPPG untuk multi-Dapur. Atureen SPPG melengkapi pedoman BGN dan pelaporan SIPGN, bukan menggantikannya, sehingga pencatatan stok ini tetap sejalan dengan pertanggungjawaban resmi program.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa beda FIFO dan FEFO dalam pengelolaan stok bahan baku dapur?

FIFO (first in, first out) berarti bahan yang lebih dulu diterima dipakai lebih dulu, sedangkan FEFO (first expired, first out) berarti bahan yang tanggal kedaluwarsanya lebih dekat dipakai lebih dulu, terlepas dari kapan bahan itu diterima. Keduanya sering dipakai bersamaan di dapur karena bahan yang diterima lebih awal biasanya juga kedaluwarsanya lebih dekat, tetapi FEFO menjadi acuan utama saat ada bahan dengan tanggal kedaluwarsa yang tidak sejalan dengan urutan penerimaannya.

Kenapa pencatatan pemakaian bahan harus dilakukan setiap hari, bukan mingguan?

Pencatatan harian membuat selisih antara stok tercatat dan stok fisik lebih cepat diketahui, sehingga penyebabnya, misalnya kesalahan takaran atau pemborosan, bisa ditelusuri saat masih segar dalam ingatan petugas. Pencatatan mingguan menumpuk banyak transaksi sekaligus, sehingga jika ada selisih, sumber masalahnya jauh lebih sulit dilacak karena sudah tercampur dengan hari-hari lain.

Bagaimana hubungan baik dengan supplier membantu mengurangi waste bahan baku?

Supplier yang memahami pola kebutuhan dapur bisa mengirim bahan sesuai jumlah dan jadwal yang benar-benar diperlukan, sehingga dapur tidak perlu menyimpan stok berlebih yang berisiko rusak sebelum sempat dipakai. Komunikasi rutin soal perkiraan kebutuhan, termasuk perubahan jumlah porsi, juga membantu supplier menyesuaikan pengiriman lebih akurat dibandingkan pemesanan yang dilakukan mendadak.

Lanjut baca